Sabtu, 25 Mei 2013

MAKALAH SEJARAH PERKEMBANGAN ULUMUL HADITS



MAKALAH
SEJARAH PERKEMBANGAN ULUMUL HADITS
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B.Rumusan Masalah
C.Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A.Hadits pada Periode Pertama ( Masa Rasulullah )
B.Hadits pada Masa Sahabat(Khulafaur Rasyidin) (11 H/632 M) dan Tabi’in
C.Perkembangan Hadits Sejak Abad Ke-2H sampai sekarang
D.Manfaat mempelajari sejarah ulumul hadits
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Keberadaan hadits sebagai salah satu sumber hukum dalam Islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra-kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat, dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-2 H.Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash al-Qur'an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-Qur'an.
B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana perkembangan hadits pada masa Rasulullah?
2.Bagaimana perkembangan hadits pada masa Khulafaur Rasyidin dan masa Tabi’in?
3.Bagaimana perkembangan hadits sejak abad ke-2H sampai sekarang?
4.Apakah manfaat mempelajari sejarah perkembangan hadits?
C.Tujuan
1.Mengetahui sejarah perkembangan hadits.
2.Mengetahui perkembangan hadits pada masa Khulafaur Rasyidin dan  masa Tabi’in
3.Mengetahui perkembangan hadits sejak abad ke-2H sampai sekarang
4.Mengetahui manfaat mempelajari sejarah perkembangan hadits.
BAB II
PEMBAHASAN
a.Hadits pada Periode Pertama ( Masa Rasulullah )
Menurut ‘Ajjaj al-Khathib, bahwa munculnya hadits itu mengalami proses yang memiliki keterkaitan dengan beberapa hal, yang meliputi:
1.Peristiwa tersebut terjadi di hadapan Nabi, yang kemudian Nabi menjelaskan hukumnya dan menyebarluaskan kepada kaum mislimin.
2.Peristiwa yang terjadi di kalangan umat Islam, yang kemudian ditanyakan kepada Rusulullah, baik kejadian yang menimpa diri sendiri maupun orang lain.
3.Kejadian-kejadian yang disaksikan oleh sahabat, mengenai apa yang diperbuat Rasulullah, kemudian sahabat tersebut menanyakannya dan selanjutnya nabi menjelaskan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan munculnya hadits dapat di lihat dari tiga sisi, yaitu: hadits muncul dalam kepentingan menafsirkan ayat Al Qur’an yang masih bersifat umum, hadits muncul dalam konteks memperkuat dan menetapkan hukum-hukum yang telah ada dalam Al Qur’an dan kemunculan hadits dikarenakan adanya suatu persoalan atau peristiwa yang terjadi yang mengharuskan untuk dijawab sementara belum ditemukan jawabannya dalam nash Al Qur’an. Menurut Muhammad Musthafa ‘Azami, para sahabat menerima hadits dari Rasulullah melalui tiga macam cara: melalui metode hafalan, metode tulisan dan metode praktik. Namun tidak semua sahabat mampu menghafal dan memahami hadits dengan baik, dikarenakan kesempatan bersama Nabi, kesanggupan bertanya kepada nabi, berbedanya jarak masuk Islam dan jarak tempat tinggalnya yang jauh dari Nabi.
Namun pada masa itu, Nabi pernah melarang menulis hadits karena karena dikawatirkan akan bercampur dalam catatan sebagian sabda Nabi dengan Al Qur'an dengan tidak disengaja. Karena itu Nabi, melarang mereka menulis hadits, beliau khawatir sabda-sabdanya akan bercampur dengan firman Illahi. Di samping Rasulullah saw. melarang menulis hadits, beliau juga memerintahkan kepada beberapa orang sahabat tertentu untuk menulis hadits. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa sesaat ketika kota Makkah telah dikuasai kembali oleh Rasulullah saw. Ketika beliau berpidato, muncullah seorang laki-laki dari Yaman yang bernama Abu Syah dan bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah! Tulislah untukku!” Jawab Rasul “tulis kamulah sekalian untuknya!”.
b.Hadits pada Masa Sahabat(Khulafaur Rasyidin) (11 H/632 M) dan Tabi’in.
•Masa Sahabat
Pada masa ini belum ada usaha secara resmi untuk menghimpun hadis dalam suatu kitab, seperti halnya al-Quran. Hal ini disebabkan agar tidak memaling-kan perhatian atau kekhususan mereka (umat Islam) dalam mempelajari al-Quran. Sebab lain pula, bahwa para sahabat yang banyak menerima hadis dari Rasul SAW sudah tersebar ke berba-gai daerah kekuasaan Islam, dengan kesibukannya masing-masing sebagai pembina masyarakat. Sehingga dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan mengumpulkan mereka secara leng-kap. Pertimbangan lainnya, bahwa soal membukukan hadis, dikalangan para sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz, dan kesahihannya.
Pada masa menjelang akhir kerasulannya, Rasulullah saw. berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh kepada AL-Qur’an dan Hadits serta mengajarkannya kepada orang lain,  sebagaimana sabdanya yang artinya : Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan sesat setelah  berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku ( al- hadits ).
a)Masa Khalifah Abu Bakar dan Umar ibn al-Khatthab.
Dalam masa khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadits amat ketat. Beliau-beliau ini tidak senang terhadap orang yang memperbanyak periwayatan hadits dengan mudah dan sembrono. Hal ini dilakukan agar kemurnian hadits Nabi tetap terpelihara. Namun demikian, bukan berarti Abu Bakar dan Umar tidak menulis hadits. Beliau-beliau ini menulis hadits untuk kepentingan tertentu.
b)Masa Khalifah Utsman dan Ali.
Diketika kendali pemerintahan dipegang oleh Utsman dan Ali dibuka pintu perlawatan kepada para sahabat serta umat mulai memerlukan sahabat, istimewa sahabat-sahabat kecil, bergeraklah sahabat-sahabat kecil mengumpulkan hadits dari sahabat-sahabat besar dan mulailah mereka meninggalkan tempat untuk mencari hadits.
•Masa Tabi’in
Sesudah masa Ustman dan Ali timbullah usaha yang lebih serius untuk mencari dan menghafal hadits serta menyebarkannya ke masyarakat luas dengan mengadakan perlawatan-perlawatan untuk mencari hadits. Pada tahun 17H tentara Islam mengalahkan Syiria dan Iraq, tahun 20H mengalahkan Mesir, tahun 21H mengalahkan Persia. Pada tahun 56H tentara Islam sampai ke Samarkand. Tahun 93H tentara Islam menakhlukkan Spanyol. Para sahabat berpindah ke tempat-tempat tersebut dimana kota-kotanya merupakan tempat mengajarkan Al Qur’an dan Al Hadits. Adapun kota-kota tempat pengajaran hadits yang terkenal yaitu Madinah, Makkah, Kufah, Bashrah, Mesir dan Syam.
c.Perkembangan Hadits Sejak Abad Ke-2H sampai sekarang
1)Mulai dilakukan pembukuan hadits (2H). Salah satu yang melatarbelakangi pembukuan hadits adalah Al-Qur’an telah dibukukan dan telah tersebar luas, sehingga tidak dikhawatirkan lagi akan bercampur dengan Hadits
2)Masa permurnian, penyehatan dan penyempurnaan (3H). Periode ini dimulai sejak masa akhir pemerintahan dinasti Abbasiyah angkatan pertama (Khalifah AI-Ma’mun) sampai awal pemerintahan dinasti Abbasiyah angkatan kedua (Khalifah Al-Muqtadir).
3)Masa pemeliharaan, penertiban, penambahan dan penghimpunan (4 sampai pertengahan abad ke 7 H). Periode ini, terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah angkatan dua (Khalifah Al-Muqtadir sampai Khalifah Al-Mu’tashim).
4)Masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan dan pembahasan ( pertengahan abad ke 7 sampai sekarang).
d.Manfaat mempelajari sejarah ulumul hadits
1)Wajah para penuntut ilmu hadits cerah/ berseri-seri.
Sabda Rasulullah saw, yang artinya “Mudah-mudahan Allah menjadikan berseri-seri wajah orang yang mendengarkan perkataanku lalu memahaminya dan menghafalkannya kemudian dia menyampaikannya, karena sesungguhnya boleh jadi orang yang memikul (mendengarkan) fiqh namun dia tidak faqih (tidak memahaminya) dan boleh jadi orang yang memikul (mendengarkan) fiqh menyampaikan kepada yang lebih paham darinya” (HSR. At Tirmidzy dan Ibnu Hibban dari shahabat Abdullah bin Mas’ud رحمه الله ).
Berkata Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله : “Tidak seorang pun yang menuntut / mempelajari hadits kecuali wajahnya cerah / berseri-seri disebabkan doa dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam (di hadits tersebut)”
2)Para penuntut ilmu hadits adalah orang yang paling bershalawat kepada Nabi.
Sabda Rasulullah saw, yang artinya “Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali”.
Berkata Khatib Al Baghdadi رحمه الله : Berkata Abu Nu’aim رحمه الله kepada kami : “Keutamaan yang mulia ini terkhusus bagi para perawi dan penukil hadits, karena tidak diketahui satu kelompok di kalangan ulama yang lebih banyak bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dari mereka, baik itu (shalawat) berupa tulisan ataupun ucapan”.
Kata Sufyan Ats Tsaury رحمه الله : “Seandainya tidak ada faidah bagi shohibul hadits kecuali bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam (maka itu sudah cukup baginya) karena sesungguhnya dia selalu bershalawat kepada Nabi Shallallahu'alaihi wasallam selama ada di dalam kitab”.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
a.Masa nabi adalah masa penyiaran hadits, maka banyak sahabat yang ingin menulis hadits Nabi. Namun nabi melarangnya karena takut akan bercampur aduk dengan Al Qur’an.
b.Masa Khulafaur Rasyidin dan masa Tabi’in
•Masa Khulafaur Rasyidin
Pada masa ini lebih banyak untuk menyadikitkan riwayat, karena dikhawatirkan terjadi pemalsuan hadits.
•Masa Tabi’in
Pada masa ini lebih banyak dipusatkan untuk penyebaran hadits ke kota-kota tertentu.
c.Perkembangan Hadits Sejak Abad Ke-2H sampai sekarang
Perkembangan hadits pada masa itu sangat dinamis. Mulai dari pembukuan hadits, penyempurnaan, pemeliharaan dan pentakhrijan hadits.
d.Manfaat mempelajari hadits
1)Wajah para penuntut ilmu hadits cerah/ berseri-seri.
2)Para penuntut ilmu hadits adalah orang yang paling bershalawat kepada Nabi.
B.Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Kami selaku penyusun makalah tersebut mengharapkan saran, dan ide yang bisa membangun, untuk  melengkapi makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Rahman, Fatchur. 1991.  Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung : PT AL-MA’ARIF.
Shiddieqy , Teungku Muhammad Hasbi Ash. 1999.  Sejaraah dan pengantar ilmu hadits. Semarang : PT Pustaka Riski Putra.
Sumbulah, Umi. 2010. Kajian Kritis Ilmu Hadits. Malang : UIN-MALIKI PRESS.
Suparta, Munzier. 2001,  ILMU HADITS.  Jakarta ; PT. Rajagrafindo Persada.
Zuhri, Muh. 2011. Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya.
Bagi yang ingin mengcopy makalah ini. Jangan lupa mencantumkan nama link saya yaa. Hehehe.
Kalau ingin mengcopy langsung, silahkan download di sini

Related Post:

Ditulis Oleh : Aan Ahmad Qolfathiriyus ~ Tips dan Trik Blogspot

Ahmad Qolfathiriyus Sobat sedang membaca artikel tentang MAKALAH SEJARAH PERKEMBANGAN ULUMUL HADITS . Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya yaaa :D ..

2 komentar :

  1. klu bia buat footnote sekalian, jadi bisa lebih ok lg

    BalasHapus
  2. terimakasih atas sarannya. Bermanfaat sekali.
    sebenarnya ada footnote nya tinggal download saja disini ->> http://www.mediafire.com/download/9bgzmkd76zm2obs/KELOMPOK+4.docx

    BalasHapus

About

Blog ini berbagi macam materi, makalah, soal, aplikasi, dan lain-lain. Semua yang ada di sini, insyaallah bermanfaat untuk kalian semua.
Diberdayakan oleh Blogger.