Sabtu, 25 Mei 2013

MAKALAH PEMBAGIAN DAN MACAM-MACAM HADIST BERDASARKAN KUANTITAS



MAKALAH
PEMBAGIAN DAN MACAM-MACAM HADIST BERDASARKAN KUANTITAS
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
B.Rumusan Masalah
C.Tujuan Pembahasan
BAB II PEMBAHASAN
A.Pembagian Hadist dari Segi Kuantitasnya
1.Hadist Mutawatir
1.1.Pengertian Hadist Mutawatir
1.2. Syarat-syarat Hadist Mutawatir
1.3. Pembagian Hadist Mutawatir
2.Hadist Ahad
3.1. Pengertian Hadist Ahad
3.2. Pembagian Hadist Ahad
B.Faedah Hadist Mutawatir dan Hadist Ahad
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan banyak bermunculan penelitian tentang kajian keilmuan Islam, terutama dalam ilmu hadits. Banyak sekali bahasan dalam ilmu hadits yang sangat menarik dan sangat penting untuk dibahas dan dipelajari, terutama masalah ilmu hadits.
Sebagian orang bingung melihat jumlah pembagian hadits dan macam-macam hadist yang banyak dan beragam. Tetapi kemudian kebingungan itu menjadi hilang setelah melihat pembagian hadits dan macam-macam hadist yang ternyata dilihat dari berbagai tinjauan dan berbagai segi pandangan, bukan hanya segi pandangan saja. Misalnya hadits ditinjau dari segi kuantitas jumlah perawinya, Untuk mengungkapkan tinjauan pembagian hadits maka pada bahasan ini hnya akan membahas pembagian hadits dan macam-macam hadist dari segi kuantitas.
B.Rumusan Masalah
a.Apa pengertian dari hadis mutawatir dan hadist ahad ?
b.Ada berapa pembagian hadist mutawatir dan hadist ahad?
c.Apakah hikmah adanya hadist mutawatir dan hadist ahad ?
C.Tujuan
a.Untuk memahami dan mengerti hadist mutawatir dan hadist ahad
b.Untuk mengetahui pembagian hadist mutawatir dan hadist ahad
c.Untuk mengetahui faedah adanya hadist mutawatir dan hadist ahad
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pembagian Hadits dari Segi Kuantitasnya
Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.
1.Hadits Mutawatir
1.1. Pengertian Hadits Mutawatir
Kata mutawatir menurut lughat ialah mutatabi’ yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Sedangkan menurut istilah ialah:
“Hadits tentang sesuatu yang mahsus (yang dapat ditangkap oleh panca indera), yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan, mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.”
“Hadits mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta,.”
1.2. Syarat-syarat Hadits Mutawatir
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a)Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.
b)Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta. Sebagian dari mereka menetapkan 5 orang perawi, sebagian yang lain menetapkan 10 orang perawi, sebagian yang lain menetapkan 12, 20,40 dan 70 0rang perawi.
c)Jumlah rawi pada setiap tingkatan tidak boleh kurang dari jumlah minimal, seperti yang ditetapkan padaa syarat kedua.Bila suatu hadits telah memenuhi syarat ketetapan diatas, maka hadits tersebut dapat dikatakan sebagai hadits mutawatir dan pasti (qath’i) bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.
1.3. Pembagian Hadits Mutawatir
Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam :
a)Hadits Mutawatir Lafzhi
Yaitu hadits mutawatir dengan sama persis susunan redaksinya dan demikian juga pada hukum dan maknanya. Juga dipandang sebagai hadits mutawatir lafdzi, hadits mutawatir dengan susunan redaksi yang sedikit berbeda, karena sebagian digunakan kata-kata muradlifnya (kata-kata yang berbeda, tetapi jelas sama makna atau maksudnya) sehingga garis besar dan perincian makna hadits itu tetap sama.
Jumlah hadits-hadits yang termasuk mutawatir lafdzi sangat sedikit. Diantara contoh yang diberikan jumhur ulama adalah: Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ                    
“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka
Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.
b)Hadits Mutawatir Ma’nawi
Hadits mutawatir ma’nawi adalah hadits yang berlainan bunyi lafazh dan maknanya, tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum.
Hadits yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz. Jadi hadits mutawatir ma’nawi adalah hadits mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadits tersebut, namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya.
Jumlah hadits yang termasuk hadits mutawatir maknawi jauh lebih banyak dari hadits-hadits mutawatir lafdzi. Diantara contoh hadits mutawatir maknawi adalah “Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istisqa’ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadits yang semakna dengan hadits tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antara lain hadits-hadits yang ditakrijkan oleh Imam ahmad, Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi : “Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau.”
وَعَنْ أَنَسٍ { أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُغِيثُنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا } فَذَكَرَ الْحَدِيثَ .وَفِيهِ الدُّعَاءُ بِإِمْسَاكِهَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Anas RA berkata: Bahwasanya seorang laki-laki telah masuk masjid di hari Jum’at sedangkan Nabi Muhammad SAW sedang berkhutbah. Ia berkata: “Hai Rasulullah, harta-harta telah binasa dan jalan-jalan telah terputus karenanya berdo’alah kepada Allah agar memberi hujan kepada kita”. Lantas Rasulullah SAW mengangkat dua tangannya, kemudian berdo’a: “Allahumma aghitsna. Allahumma aghitsna (Ya Allah berilah kami hujan, ya Allah berilah kami hujan)”. Dan ia menyebutkan hadits itu seterusnya dan diakhirnya ada do’a supaya Tuhan menahan mega”. (Mutafaqun ‘Alaih).
Ketiga hadits diatas kendati berbeda redaksi dan perincian maknanya, jelas mengandung pengertian yang sama, yaitu Rasulullah mengangkat kedua tangannya pada waktu berdo’a memohon hujan.
c)Hadits Mutawatir ‘Amali
Adalah hadits mutawatir yang menyangkut perbuatan Rasulullah SAW yang disaksikan dan ditiru oleh banyak orang tanpa perbedaan untuk kemudian dicontoh dan diperbuat tanpa perbedaan oleh banyak orang dan tanpa perbedaan pada generasi-generasi berikutnya.
Segala macam amal ibadah yang dipraktekkan secara sama oleh umat Islam atau disepakati oleh para ulama termasuk kelompok hadits mutawatir ‘amali. Diantara contohnya adalah hadits-hadits yang berkenaan dengan waktu shalat fardlu, jumlah rakaatnya, shalat jenazah, shalat ‘ied dan kadar zakat harta.
Kedudukan hadits mutawatir sebagai sumber hukum atau sebagai sumber ajaran Islam tinggi sekali. Karena itu menolak hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam sama dengan menolak kedudukan nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Dan kedudukan hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi dibanding dengan hadits ahad.
2. Hadits Ahad
2.1. Pengertian Hadits Ahad
Menurut bahasa, ahad (dibaca aahaad) adalah kata jamak dari waahid atau ahad. Bila ahad atau waahid berarti satu maka aahaad sebagai jamaknya berarti satu-satu.
Menurut istilah hadits ahad adalah Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadits tersebut masuk ke dalam hadits mutawatir. Ada juga yang memberikan ta’rif yaitu hadits yang padanya tidak terkumpul syarat-syarat mutawatir.
2.2. Pembagian Hadits Ahad
a)Hadits Masyhur         
Masyhur menurut bahasa berarti yang sudah tersebar atau yang sudah popular. Sedangkan menurut istilah Hadits Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih dan belum mencapai derajat hadits mutawatir.
Contoh hadits masyhur: Rasulullah SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin tidak terganggu oleh lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari, Muslim dan at-Turmudzi)
Hadits tersebut diatas sejak dari tingkatan pertama (tingkatan sahabat nabi) sampai ketingkat imam-imam yang membukukan hadits (dalam hal ini adalah Bukhari, Muslim dan at-Turmudzi) diriwayatkan oleh tidak kurang dari tiga rawi dalam setiap tingkatan. Bila suatu hadits pada tingkatan pertama diriwayatkan oleh tiga orang rawi kemudian pada tingkatan-tingkatan selanjutnya diriwayatkan oleh lebih dari tiga rawi maka hadits tersebut tetap dipandang sebagai hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi dan karenanya dimasukkan ke dalam kelompok hadits masyhur.
b)Hadits Aziz
Aziz menurut bahasa adalah mulia atau yang kuat dan juga dapat berarti yang jarang. Sedangkan menurut istilah ahli hadits menyebutkan Hadits Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi.
Berdasarkan pengertian diatas dapat dipahami bahwa bila suatu hadits pada tingkatan pertama diriwayatkan dua orang dan setelah itu diriwayatkan oleh lebih dari dua orang rawi, maka hadits itu tetap saja dipandang sebgai hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi dan karena itu termasuk hadits aziz.
Contoh hadits ‘Aziz:
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ح وَحَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ » .
“Tidak sesungguhnya beriman salah seorang dari kamu, sehingga adalah aku (Nabi) lebih cinta kepadanya daripada ia (mencintai) bapaknya dan anaknya.”     
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sanad-sanad yang tidak sama dari jalan Anas dan Abi Hurairah. Ini berarti hadits tersebut mempunyai dua sanad. Karena kedua-duanya berlainan maka dinamakan hadits Aziz
Penamaan hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi sebagai hadits Aziz (yang secara harfiah berarti hadits yang kuat atau mulia), boleh jadi didasarkan pada anggapan pokok bahwa hadits yang diriwayatkan oleh dua orang adalah kuat, dibanding dengan hadits yang diriwayatkan oleh hanya satu orang rawi.
c)Hadits Gharib
Gharib menurut bahasa berarti jauh, terpisah atau menyendiri dari yang lain. Hadits gharib menurut bahasa berarti hadits yang terpisah atau menyendiri dari yang lain. Para ulama memberi pengertian hadits gharib adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi (sendirian) pada tingkatan manapun dalam sanad.
Berdasarkan pengertian tersebut maka bila suatu hadits hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat nabi dan baru pada tingkatan berikutnya diriwayatkan oleh banyak orang perawi, hadits tersebut tetap dipandang sebagai hadits Gharib.
Contoh hadits Gharib:
Dari Umar bin Khattab, beliau berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
قال أبو بكر : خبر عمر بن الخطاب : عن النبي صلى الله عليه و سلم إنما الأعمال بالنية و إنما لكل امرئ ما نوى.
“Amal perbuatan itu hanya (dinilai) menurut niat dan setiap orang hanya (memperoleh) apa yang diniatkannya.”(HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain).
Kendati hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak imam hadits tetapi pada tingkatan sahabat hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khattab RA. Dan begitupula pada tingkatan selanjutnya yaitu tabi’in hanya Alqomah. Maka hadits tersebut dipandang sebagai hadits yang diriwayatkan oleh satu orang dan termasuk hadits gharib.
Bila hadits mutawatir dapat dipastikan dari Rasulullah SAW, maka tidak demikian dengan hadits ahad. Hadits ahad tidak pasti dari Rasulullah SAW tetapi diduga (dzanni) berasal dari beliau. Karena hadits ahad tersebut tidak pasti (ghairu qath’i), tetapi diduga berasal dari Rasulullah maka kedudukan hadits ahad sebagai sumber hukum ajaran agama Islam berada dibawah hadits mutawatir. Ini berarti bila suatu hadits yang termasuk hadits ahad bertentangan isinya dengan hadits mutawatir maka hadits tersebut harus ditolak.
B.Faedah Hadist Mutawatir dan Hadist Ahad
Hadits Mutawatir memberikan faedah imu daruri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan Mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath'i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi Mutawatir. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa peneliti terhadap rawi-rawi hadits Mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits Mutawatir.
Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat’i, sebagaimana hadis mutawatir. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan, oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa, hadis tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir.  Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis, ialah memeriksa “Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud”. Kalau maqbul, boleh kita berhujjah dengannya. Kalau mardud, kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya. Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih, atau hasan), hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Jika ada, kita kumpulkan antara keduanya, atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Kalau tak mungkin dikumpulkan, tapi diketahui mana yang terkemudian, maka yang terdahulu kita tinggalkan, kita pandang mansukh, yang terkemudian kita ambil, kita pandang nasikh.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari pembahasan diatas penulis dapat mengambil kesimpulan adalah :
1.Hadits mutawatir menurut bahasa berarti mutatabi yakni yang datang berikutnya atau beriring-iringan yang antara satu dengan yang lain tidak ada jaraknya. Sedangkan menurut ulama hadits, mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang mustahil menurut adat bahwa mereka bersepakat untuk berbuat dusta lebih jelasnya pengertian hadits mutawatir telah penulis paparkan dalam pembahasan.
2.Adapun Pembagian hadits mutawatir yaitu:
a)Mutawatir lafzhi adalah suatu hadits yang mutawatir lafaz dan maknanya.
b)Mutawatir Ma’nawi adalah hadits yang maknanya mutawatir, tetapi lafaznya tidak.
c)Mutawatir Amali adalah sesuatu yang diketahui dengan mudah bahwa dia termasuk urusan agama dan telah mutawatir antar umat Islam, bahwa Nabi SAW mengerjakannya menyuruhnya atau selain itu, dan pengertian ini sesuai dengan ta’rif ijma.
3.  Syarat-syarat hadits mutawatir yaitu:
a)Diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi.
b)Adanya keseimbangan antar perawi pada thabaqat pertama dengan thabaqat berikutnya.
c)Berdasarkan tanggapan pancaindra.
4.   Hadits Ahad adalah hadits yang berasal dari kata ahad berarti satu sedangkan khabar al-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang.
5.  Menurut istilah ilmu hadits. Hadits ahad berarti hadits yang tidak memenuhi syarat     mutawatir.
Adapun pembagian hadits ahad diantaranya adalah:
a)Hadits masyhur. Masyhur menurut bahasa berarti yang sudah tersebar atau yang sudah populer.
b)Hadits Aziz. Hadits aziz menurut bahasa berarti hadits uang mulia atau hadits yang kuat atau hadits yang jarang, karena memang hadits azis itu jarang adanya.
c)Hadits Garib. Hadits garib menurut bahasa adalah hadits yang terpisah atau menyendiri dari yang lain.
6.  Syarat dari hadits ahad menurut istilah ilmu hadits adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir.
7. Perbedaan hadits mutawatir dengan hadits ahad, yaitu:
a)Dari segi jumlah rawi
b)Dari segi pengetahuan yang dihasilkan
c)Dari segi kedudukan
d)Dari segi kebenaran keterangan matan.
Mungkin hanya ini kesimpulan yang dapat penulis makalah buat lebih jelasnya telah penulis paparkan pada bab pembahasan.
B.Saran
Adapun saran yang penulis makalah harapkan dari para pembaca agar memberikan saran atau masukan-masukan apabila ada kekurangan atau kurang terperincinya paparan pada bab pembahasan salah dan khilaf penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Khumaidi Irham, Ilmu Hadist Untuk Pemula, Jakarta Barat, CV. Atrha Rivera
Dr. Hj. Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ulmu Hadist, Malang, UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI), 2010
Bagi yang ingin mengcopy makalah ini. Jangan lupa mencantumkan nama link saya yaa. Hehehe.
Kalau ingin mengcopy langsung, silahkan download di sini

Related Post:

Ditulis Oleh : Aan Ahmad Qolfathiriyus ~ Tips dan Trik Blogspot

Ahmad Qolfathiriyus Sobat sedang membaca artikel tentang MAKALAH PEMBAGIAN DAN MACAM-MACAM HADIST BERDASARKAN KUANTITAS . Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya yaaa :D ..

0 komentar :

Poskan Komentar

About

Blog ini berbagi macam materi, makalah, soal, aplikasi, dan lain-lain. Semua yang ada di sini, insyaallah bermanfaat untuk kalian semua.
Diberdayakan oleh Blogger.